
ArtikeI lmiah Kampus Universitas Syekh Maulana Qori.
Jejak peradaban Islam di bumi Tali Undang Tambang Teliti, Kabupaten Merangin, bukanlah sekedar deretan angka tahun yang dingin, melainkan narasi panjang tentang perjumpaan tradisi lokal dengan nilai-nilai tauhid yang membebaskan. Sebelum riak modernisasi menyentuh pelosok desa di sepanjang aliran Sungai Batang Merangin dan Batang Tembesi, Islam telah merajut jalinan kehidupan sosial, budaya, serta spiritual masyarakatnya. Pendidikan Agama Islam di Merangin lahir dari kesederhanaan yang mendalam—sebuah perjalanan historis yang membentuk karakter religius masyarakat Jambi hingga hari ini.
Era Surau dan Masjid: Pondasi Awal Pendidikan Karakter
Pada era awal penyebarannya, pendidikan Islam di Kabupaten Merangin tidak dimulai di gedung-gedung sekolah formal berarsitektur modern, melainkan berpusat di surau kayu (yang dalam bahasa lokal disebut langga) dan masjid-masjid desa. Surau atau langga di tanah Merangin bukan sekadar tempat menunaikan ibadah salat, melainkan episentrum kebudayaan dan transmisi keilmuan. Bukti sejarah mencatat keberadaan surau atau langga tuo tertua di Kabupaten Merangin, yaitu yang terletak dekat batu prasasti di Desa Karang Berahi, Desa Air Batu serta di kawasan Rumah Tuo Rantau Panjang, Kecamatan Tabir, yang berusia ratusan tahun dan merekam jejak peradaban awal Suku Batin dan juga sebelum tahun 1704 berdiri Masjid Rajo Tiangso, Selepas wafatnya Muhammad Amin Rajo Tiangso, anak-anak kandungnya memindahkan bangunan masjid itu dari Tanjung Alam ke Desa Muara Madras sejauh kurang lebih 3 kilometer.

Di sinilah anak-anak dan remaja berkumpul selepas Magrib untuk mengaji Al-Qur’an, mengenal dasar-dasar ilmu fiqih, serta menyerap nilai-nilai moral dan akhlakul karimah. Para guru mengaji yang dikenal penuh kesederhanaan dan keikhlasan mengajar menggunakan metode tradisional, seperti:
- Model Sorogan: Murid maju satu per satu menghadap guru untuk membaca dan menyimak kaji.
- Model Bandongan: Murid duduk melingkar menyimak penjelasan guru yang menyampaikan materi melalui metode ceramah.
Pengajaran tersebut tidak hanya berfokus pada pelafalan ayat suci atau kitab kuning, tetapi juga pada pembentukan watak agar selaras dengan norma adat dan budaya lokal yang berorientasi pada prinsip “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” serta “Adat Mamakai Syarak Melimbai”.
Peran Tokoh Agama dan Ulama Nusantara
Perkembangan pesat pendidikan Islam di Merangin tak lepas dari peran sentral para ulama, kiai, dan guru agama setempat. Sebagian besar ulama’ tersebut merupakan lulusan Madrasah Nurul Iman Jambi dan Sa’atuddarein Tahtul Yaman Jambi. Setelah menuntaskan pendidikan di Jambi, mereka melanjutkan pengembaraan keilmuan ke Tanah Suci Makkah dengan berlayar berbulan-bulan. Sekembalinya ke kampung halaman, para ulama ini membawa misi besar untuk mencerdaskan masyarakat melalui dakwah yang berkesinambungan.
Pergeseran transformatif (transformational shift) terjadi ketika sistem surau atau langga mulai berkembang menjadi halqah-halqah keilmuan yang lebih terstruktur. Para ulama’ tidak hanya mengajarkan hukum ibadah praktis, tetapi juga menanamkan pemahaman tauhid yang kokoh untuk mengikis kepercayaan mistis yang mengikat kehidupan masyarakat masa lalu. Kedekatan para ulama dengan tokoh adat membuat ajaran Islam diterima secara harmonis tanpa memicu konflik sosial. Masyarakat masa itu sangat menghormati para ulama dan secara takzim memanggil mereka dengan sebutan “Guru”.
Transformasi Menuju Sistem Madrasah dan Pesantren
Memasuki pertengahan abad ke-20, dinamika pendidikan Islam di Merangin mengalami pembaharuan yang signifikan melalui lahirnya lembaga terstruktur berupa madrasah dan pondok pesantren. Salah satu bukti sejarah pembaruan yang masih terjaga hingga kini adalah Madrasah KH. Idris Bin Usman di Desa Sungai Ulak (arah jalan menuju Desa Danau). Madrasah ini menjadi saksi bisu peralihan tempat pendidikan dari sistem surau/langga dan masjid menuju lembaga formal Madrasah.

- Peralihan Metodologi: Dari sistem pengajaran individual di surau atau langga beralih ke sistem klasikal dengan kurikulum yang teratur, jenjang kelas, target hafalan, serta referensi buku dan kitab yang jelas.
- Integrasi Ilmu: Pembelajaran agama mulai dipadukan dengan ilmu-ilmu umum untuk menjawab tantangan zaman dan membekali generasi muda Merangin agar mampu bersaing secara luas.
- Pendirian Pesantren: Berdirinya berbagai pondok pesantren di wilayah Bangko dan sekitarnya bermula dari madrasah. Tingginya minat santri yang berasal dari daerah jauh mendorong mereka membangun tempat tinggal sementara di sekitar madrasah. Seiring bertambahnya santri, bermunculan bangunan-bangunan kayu dan bambu yang menyerupai pondok di ladang. Dari sinilah lahir sistem pondok pesantren: pondok sebagai tempat tinggal santri, dan pesantren sebagai lembaga pendidikan Islamnya.
Pondok pesantren kemudian menjadi tolak ukur kemandirian pendidikan Islam. Pesantren tidak hanya mencetak calon ulama’, tetapi juga melatih jiwa kepemimpinan, kemandirian, dan kepedulian sosial. Dedikasi inilah yang membuat keberada’an santri sangat dibutuhkan dan dinantikan di tengah-tengah masyarakat Kabupaten Merangin.
Warisan Historis dan Pondasi Masa Depan
Awal perkembangan Pendidikan Islam di Kabupaten Merangin memberikan fondasi yang sangat kokoh bagi identitas daerah. Sinergi antara ajaran Islam dan nilai adat melahirkan masyarakat yang berpegang teguh pada nilai keagamaan, menjunjung tinggi persaudaraan, serta memiliki rasa hormat yang mendalam terhadap ilmu pengetahuan, para ustadz, guru, dan buya.
Kini, jejak-jejak historis tersebut menjadi benteng spiritual yang menjaga Merangin dari derasnya arus globalisasi. Semangat keikhlasan para pengajar surau di masa lalu terus mengalir dalam nadi madrasah, pesantren, dan sekolah Islam modern saat ini—memastikan cahaya ilmu dan keimanan terus menerangi bumi Merangin dari generasi ke generasi.
Ditulis Oleh: Tabrani Idris
Daftar Pustaka.
- Al-Adzro’iy, M. (2021). KH. Ahmad Idris bin Usman, Sungai Ulak Bangko (w. 1991 M). Jaringan Santri.
- Arman, D. (2019). Sejarah Masuk dan Perkembangan Islam di Jambi. Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Nusantara, 12(2), 45–58.
- Rizal, I. (2021). Peranan Guru dalam Membina Akhlak Santri Di Pondok Pesantren Muhammad Amin Rajo Tiangso, Jangkat Timur. JIGC (Journal of Islamic Guidance and Counseling), 5(1), 41-42.
- BPS Kabupaten Merangin. (2021). Kabupaten Merangin dalam Angka: Sejarah dan Kebudayaan Lokal. Bangko: Badan Pusat Statistik Kabupaten Merangin.
- Hamka. (2015). Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah: Integrasi Agama dan Budaya di Tanah Melayu. Jakarta: Pustaka Panjimas.
- Hasbullah. (2018). Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia: Lintas Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
- Madjid, M. D., & Wahyudi, J. (2014). Ulama dan Pembaharuan Pendidikan Islam di Provinsi Jambi. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 8(1), 89–104.
- Nasution, H. (2017). Peralihan Sistem Surau ke Madrasah dalam Tradisi Pendidikan Islam Nusantara. Yogyakarta: LKiS.
- Pemerintah Kabupaten Merangin. (2018). Sejarah Singkat Pembentukan dan Kebudayaan Kabupaten Merangin. Bangko: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merangin.
- Sagimun, M. D. (2016). Penyebaran Islam dan Lembaga Keagamaan Tradisional di Wilayah Batanghari dan Merangin. Jurnal Historiografi Islam, 5(3), 112–128.

silahkan di kutif bagi yag ingin memperkaya tulisan dan khazanah ke ilmuan,